Ngopeni

Blora dalam Secangkir Kopi

Bagaimana orang lain mau mengenal kota asalmu, jika engkau sendiri tidak mengenalinya.

Malam itu disebuah warung kopi kota rantau, saya berbincang dengan beberapa kawan dengan organisasi yang berbeda dan latar belakang daerah yang berbeda pula. Dengan ditemani beberapa cangkir kopi dan berbatang-batang rokok kami habiskan malam itu.

Obrolan yang sangat menarik tapi juga menyiksa bagi saya. Betapa tidak, dalam suatu perbincangan malam itu membincang daerah asal. Yang paling memukul, dan menyayat hati dan pikiran saya ketika saya mengungkapkan asal daerah saya adalah Blora. Kemudian ditimpali dengan muka kawan-kawan saya yang kebingungan dan saling menatap satu sama lain, hingga akhirnya mereka tertawa dan bertanya kepada saya.

“Blora itu mana?”tanya mereka kompak.

Seketika saya menjelaskannya dengan bahasa geografis, “Blora itu kota perbatasan antara Jawa Tengah dengan Jawa Timur,” jelas saya.

Mereka menganggukkan kepala, entah mereka tahu atau tidak sebenarnya. Lanjut ku jelaskan, ke salah satu kecamatan di Blora yang terkenal dengan minyak nya (migas blok cepu). Seketika mereka mulai paham, dan menerima bahwa kota Blora itu memang benar-benar ada, tatkala kata Cepu saya katakan. Lantas muncul pikiranku yang merintih, ironis. Cepu yang bagian dari Blora lebih dikenal orang luar. Bagaikan anak yang lebih dikenal dan dikenang daripada orangtuanya.

Dari obrolan itu lah, pikiran saya mulai tersadarkan, bahwa tanggungjawab besar telah diberikan kepada saya dan para putra daerah Blora, untuk senantiasa menjaga marwah Blora dan mengenalkan Blora dikancah dunia.

Lantas pikiranku kemana-mana, tatkala ada tanggungjawab yang harus diemban. Seolah saya sedang menggunakan konsep dari Socrates (Filsuf) yakni tentang seni bertanya. Ya, pada kesempatan ini saya memepertanyakan pada diri saya sendiri (khususnya) dan bertanya reflektif (umumnya).

Dari satu pertanyaan ke pertanyaan pun muncul. Apakah saya mengenali Blora? Buktinya apa? Ada berapa kecamatan dan desa di Blora? Sebutkan nama-namanya. Apa saja potensi sumber daya alam Blora? Wisata, kuliner, tempat bersejarah, apa yang ada di Blora? Tokoh nasional siapa saja yang berasal dari Blora? Bagaimana sejarah berdirinya kota Blora? dan pertanyaan lainnya.
Pertanyaan yang timbul dari diri saya sendiri dan menjadi cambuk bagi saya, karena ternyata saya tidak mengenali kota kelahiran saya sendiri. Ironis.

Lantas diri saya bergejolak tidak mau disalahkan oleh saya. Saya memunculkan alibi, sebab saya tidak pernah jalan-jalan keliling Blora, kemudian saya saat SMA hidup di asrama dengan segala batasan aturan-aturannya. Ternyata, pikirku lagi, alibi yang saya buat adalah sebuah kebodohan.
Sebab kenapa saya harus mencari pembenaran, meskipun saya sudah terbukti salah “saya belum mengenali kota kelahiran”.

Mengapa tidak lantas mencari jalan pengetahuan supaya lebih mengenali kota asal sendiri. Seolah memang kebodohan kita pelihara dan kita ciptakan dari diri kita sendiri.
Bagaimana mengenali kota kelahiran kita sendiri? Mari kita jawab.

Sekarang adalah era digital, kecanggihan teknologi tidak bisa dinafikan keberadaannya. Tergantung kita mau atau tidak untuk memanfaatkannya.

Meskipun tempat yang dalam jarak itu tampak jauh. Tapi dengan adanya teknologi terasa dekat. Kita ingin mengenali asal daerah meskipun di tanah rantau, mengapa tidak? Akses internet dimana-mana. Gawai mayoritas juga sudah punya. Kenapa tidak memanfaatkannya? Mari kita tanyakan pada diri kita sendiri.

Minimal diri kita dahulu sebagai anak daerah harus mengetahui dan mengenali seluk beluk kota kelahirannya. Lantas setelah itu tanggungjawab kita adalah mengenalkan Blora pada dunia.

Para pendahulu kita sudah mengenalkan Blora ke kancah dunia, seperti Pramoedya Ananta Toer dengan karya sastranya. Samin Surosentiko dengan ajaran, dan perlawanan tanpa kelerasan pada penjajah dengan bahasa. Tirto Adhi Soerjo seorang Bapak Pers Nasional, dan tokoh-tokoh lainnya.
Saya meyakini, bahwa para putra daerah Blora mengalir darah-darah Pram, Samin, dan tokoh lainnya. Bangga menjadi orang Blora, telah terbukti rahim bumi Blora telah melahirkan orang-orang hebat yang sebagian telah saya sebutkan diatas.

“Blora adalah aku. Aku adalah Blora”

Tags

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
Close