Ngopeni

Ceritakan Tentang Keadaan Desa

BLORAPEDIA.ID – Mengenal Blora adalah mengenal masa kecil yang tidak pernah tahu mana alun-alun kota, kantor bupati dan bentuknya bank saja tidak pernah lihat. Kerena memang jarak desa kami jauh dari pusat kota juga jalan desa yang tidak cukup bagus kala itu bahkan sampai sekarang.

Sebagaimana umumnya anak desa aku hanya mengetahui sepak bola dan kali (sungai). Tidak pernah terpikir cita-cita yang muluk bahkan memang sejak kecil tidak pernah memiliki cita-cita. Diantara semua pelajaran yang kudapat disekolah dasar yang paling sulit adalah ketika ditanya cita-citamu apa.

Setelah dewasa kemudian merantau mulai tahu yang namanya jalan beraspal dan gedung. Di kepalaku banyak tanda tanya dan jelas bingung. Kenapa di desaku tidak ada gedung dan jalan aspal saja baru ada beberapa waktu kebelakang. Itupun begitu beberapa bulan dibangun, jalan aspal bisa dipastikan hancur berantakan. Hal demikian berulang menunggu proyek selanjutnya yang tambal sulam.

Setelah mulai mengenal ilmu dan bangku kuliah mulai faham caranya protes semua aku kritik dan persalahkan. Setiap ada kesempatan ketemu orang-orang aku bicarakan pengetahun dan keharusan akan sebuah keteraturan. Bahwa banyak sekali penyelewengan dan tentu saja tidak sedikit yang membenarkan, tapi semua tetap diam.

Hidup bagi masyarakat desaku semakin sulit, petani musiman yang bisa bekerja jika hujan datang. Keseharian memelihara hewan ternak sebagai sumber penghasilan jika kemarau terlampau panjang.

Semua silih berganti, umurku juga tak bisa terganti bahwa semakin mengerti semakin perih hati mengetahui keadaan desa sampai kini. Memang bukan hanya desaku saja yang bernasib demikian tetapi juga banyak desa lainnya yang masih terbelakang dengan jalan berlubang di tengah hutan dan jarang mendapat perhatian.

Blora merupakan kabupaten kecil dan bukan merupakan jalur perlintasan ekonomi. Jelas saja pembangunannya terkesan setagnan, maka wajar jika masyarakatnya banyak merantau. Seolah hanya menjadi penyuplai pekerja dan buruh bagai banyak kota besar sebab Blora tidak mampu menyediakan lapangan kerja.

Melihat Blora adalah melihat kenyataan yang menyakitkan, bumi perlawanan yang digaungkan oleh Komunitas Samin hanya kondang dalam sejarah. Tempat kelahiran Bapak Pers Tirto Adhi Soerjo dan sastrawan besar Pramoedya Ananta Toer ini tetap sama miris dikenang. Geliat pembangunan hanya menyentuh permukaan.

Milyaran uang dana desa digelontorkan hanya mengahsilkan gapura, fondasi pinggir jalan dan talud yang jelas tidak berguna. Sebab desa-desa jelas tidak terganggu dengan pergerakan tanah atau longsor. Membuat talud hanya sebuah pemborosan saja. Segala proyek seolah hanya fotocopy dari proyek desa lain yang saling bergantian tanpa tujuan jelas.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
Close