MbloraniSejarah

Sembilan Tokoh Pejuang Nasional Asal Blora

Gambar sembilan tokoh asal Blora (dok.istimewa) 

Blora selain kaya dengan sumber alamnya, mulai dari pertaniannya, hutan jati, hingga sumber minyak. Blora juga melahirkan para tokoh yang dikenang jasa-jasanya dalam keberlangsungan negara Indonesia ini.

Dari pencarian data yang dihimpun blorapedia.id dari berbagai sumber, menemukan sembilan orang tokoh politik, kebangsaan dan pejuang. Diantaranya sebagai berikut :

1. Tirto Adhi Soerjo

Raden Mas Djokomono Tirto Adhi Soerjo (Blora, 1880–1918). Ia adalah seorang tokoh pers dan tokoh kebangkitan nasional Indonesia, dikenal juga sebagai perintis persuratkabaran dan kewartawanan nasional Indonesia. Namanya sering disingkat T.A.S

Ia adalah Bapak Pers Nasional. Selain itu Tirto adalah yang menerbitkan surat kabar Soenda Berita (1903-1905), Medan Prijaji (1907) dan Putri Hindia (1908). Tirto juga mendirikan Sarikat Dagang Islam.

Medan Prijaji dikenal sebagai surat kabar nasional pertama karena menggunakan bahasa Melayu (bahasa Indonesia), dan seluruh pekerja mulai dari pengasuhnya, percetakan, penerbitan dan wartawannya adalah pribumi Indonesia asli.

2. Pramoedya Ananta Toer

Pramoedya Ananta Toer lahir 6 Februari 1925 – wafat 30 April 2006). Ia adalah seorang Indonesia penulis novel, cerita pendek, esai, polemik dan sejarah tanah air dan rakyatnya.

Ia adalah seorang Sastrawan, karya-karyanya menjangkau periode kolonial, perjuangan Indonesia untuk kemerdekaan, pendudukannya oleh Jepang selama Perang Dunia Kedua , serta rezim otoriter pasca-kolonial Sukarno dan Suharto , dan diresapi dengan sejarah pribadi dan nasional.

Pemerintah Belanda memenjarakannya dari tahun 1947 hingga 1949, rezim Suharto dari tahun 1965 hingga 1979.

3. Ali Moertopo

Ali Moertopo, lahir di Blora, Jawa Tengah, 23 September 1924 – meninggal di Jakarta, 15 Mei 1984 pada umur 59 tahun). Ia adalah seorang tokoh intelijen, dan politikus yang berperan penting terutama pada masa Orde Baru di Indonesia.

Ia pernah menjabat sebagai Asisten Pribadi Soeharto, Kepala Operasi Khusus, Menteri Penerangan Indonesia (1978 – 1983) serta Deputi Kepala (1969 – 1974) dan Wakil Kepala (1974 – 1978) Badan Koordinasi Intelijen Negara.

4. Mukti Ali

Abdul Mukti Ali lahir di Cepu, Blora, Jawa Tengah, 23 Agustus 1923 – meninggal di Yogyakarta, 5 Mei 2004 pada umur 80 tahun. Ia adalah mantan Menteri Agama Republik Indonesia pada Kabinet Pembangunan II.

Ia juga terkenal sebagai Ulama ahli perbandingan agama yang meletakkan kerangka kerukunan antarumat beragama di Indonesia sesuai dengan prinsip Bhineka Tunggal Ika atau istilah yang sering dipakainya “Setuju dalam Perbedaan.”

Ia juga terkenal sebagai cendekiawan muslim yang menonjol sebagai pembaharu pemikiran Islam melalui Kajian Keislaman (Islamic Studies).

5. Marco Kartodikromo

Marco Kartodikromo lahir di Cepu, Blora, 1890 – Boven Digoel, 18 Maret 1935. Ia biasa disebut sebagai Mas Marco. Ia adalah seorang penulis dan jurnalis Indonesia.

6. LB Moerdani

Leonardus Benjamin Moerdani (juga dikenal publik sebagai LB Moerdani atau Benny Moerdani ) (2 Oktober 1932-29 Agustus 2004). Ia adalah ABRI Komandan 1983-1988 dan juga menjabat sebagai Menteri Pertahanan dan Keamanan . Ia terkenal karena pendiriannya yang kuat dalam banyak situasi yang menentukan dalam kehidupan politik dan sosial Indonesia.

Dia juga penting sebagai seorang pemimpin yang beragama Katolik dalam komunitas yang mayoritas Muslim.

7. Samin Surosentiko

Samin Surosentiko (Blora, 1859 – tidak diketahui) atau Samin atau Mbah Suro, bernama asli Raden Kohar, adalah pelopor Ajaran Samin (Saminisme).Selama masa pembuangannya di Sawahlunto, ia pernah menjadi kepala tambang di salah satu lubang tambang batu bara.

8. Sukarmadji Maridjan Kartosoewirjo

Sekarmadji Maridjan Kartosuwiryo (7 Januari 1905 – 5 September 1962). Ia adalah seorang mistikus Islam Indonesia yang memimpin pemberontakan Darul Islam melawan pemerintah Indonesia dari tahun 1949 hingga 1962, dengan tujuan menggulingkan ideologi Pancasila sekuler dan mendirikan Negara Islam Indonesia ( Islam) Negara Indonesia) berdasarkan hukum syariah .

9. Sutardjo Kertohadikusumo

Mas Sutardjo Kertohadikusumo lahir di Blora, Jawa Tengah, 22 Oktober 1892 – meninggal di Jakarta, 20 Desember 1976 pada umur 84 tahun. Ia adalah gubernur pertama Jawa Barat.

Menurut UU No. 1 Tahun 1945, daerah Jawa Barat saat itu menjadi daerah otonom provinsi. Sekalipun ia adalah Gubernur Jawa Barat, tetapi ia tidak berkantor di Bandung, melainkan di Jakarta.

Sutardjo merupakan tokoh nasional yaitu anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP). Ia penggagas Petisi Sutarjo. Petisi ini diajukan pada 15 Juli 1936, kepada Ratu Wilhelmina serta Staten Generaal (parlemen) Belanda.

Petisi ini diajukan karena ketidakpuasan rakyat terhadap kebijakan politik Gubernur Jenderal De Jonge. Selain itu ia pernah menjabat juga sebagai Ketua DPA.

Tags

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
Close