Sejarah

Tirto Adhi Soerjo Sang Bapak Pers Nasional Asal Blora

Tirto Adhi Soerjo (Dok.Internet) 

 

Tirto lahir di Blora dengan nama Raden Mas Djokomono. Ia anak kesembilan dari 11 bersaudara. Ayahnya, bernama Raden Ngabehi Hadji Moehammad Chan (EYD: Khan) Tirtodhipoero. Ketika Tirto lahir ia masih berkarier sebagai pegawai kantor pajak, di mana kelak ia juga akan jadi bupati.

Namun hingga kini belum diketahui siapa nama ibunya. Tidak hanya itu waktu kelahiran Tirto pun masih mengundang tanda tanya. Ada dua versi tahun kelahiran Tirto. Versi pertama adalah dari Penyair Priatman dalam puisinya, “Di Indonesia 1875-1917” yang pernah dimuat buku Perdjoangan Indonesia dalam Sedjarah pada 1962, disebutkan bahwa Tirto lahir pada 1872 dan wafat 1917. Pram turut menyantumkan keterangan ini dalam biografi Tirto, Sang Pemula dan menyebutnya kurang akurat.

Pram menilai ketidakakuratan itu merupakan buah dari “suksesnya” para musuh Tirto yang acap menyudutkannya semasa hidup, untuk mengacaukan asal-usulnya sejak 1920-an. Sebut saja para pejabat Penasihat Urusan Pribumi Hindia Belanda: Snouck Hurgronje, G.A.Z. Hazeu hingga D.A. Rinkes.

Namun Pram lebih mempercayai temuan sejumlah dokumen biasa dan sangat rahasia oleh S.L. van der Wal pada 1954, De Opkomst van de Nationalistische Beweging in Nederlandsch-Indië, di mana disebutkan Tirto lahir pada 1880 dan wafat pada 7 Desember 1918.

Menariknya lagi, di batu nisan Tirto di TPU Blender, Bogor, terpahat tahun lahir 1875 namun wafat 1918.

“Tak banyak yang dapat dihimpun tentang masa kecilnya. Seakan ia langsung menjadi dewasa. Semi-otobiografinya, Busono, juga tak pernah menggambarkan masa bocahnya. Samar-samar saja ia tampilkan dua orangtuanya. Timbul dugaan, ia tak pernah mengenal orangtuanya,” sebut Pram.

Hanya diketahui kemudian ia berganti nama sejak masa muda, di mana lazim dilakukan priyayi zaman itu menjadi RM Tirto Adhi Soerjo. Sisanya, riwayatnya hanya diketahui ia merupakan cucu Raden Mas Tumenggung Tirtonoto, Bupati Rajegwesi, Karesidenan Rembang. Sebelum 1827, Rajegwesi merupakan sebutan Bojonegoro.

Ia juga diketahui sangat dekat dengan neneknya, Raden Ayu Tirtonoto yang masih keturunan (cucu) Mangkunegara I alias Pangeran Sambernyawa. Masa belia dihabiskan Tirto bak nomaden. Mulanya ia diasuh neneknya semasa bersekolah di ELS (Europeesche Lagere School) di Bojonegoro. Lantas sepeninggal sang nenek, Tirto ikut sepupunya, RMA Brotodiningrat ke Madiun.

Belum juga ia tamat ELS, sudah pindah lagi ke Rembang diasuh salah satu kakaknya, RM Tirto Adhi Koesoemo yang jadi kepala jaksa di sana. Baru pada usia 14 tahun selepas lulus ELS di Rembang, ia merantau ke Batavia untuk melanjutkan ke STOVIA (School tot Opleiding van Indische Artsen).

Meski tak sampai lulus di STOVIA, benih-benih gagasan Tirto soal perlawanan penindasan mulai merekah lewat media.

Tirto menerbitkan surat kabar Soenda Berita (1903-1905), Medan Prijaji (1907) dan Putri Hindia (1908). Tirto juga mendirikan Sarikat Dagang Islam. Medan Prijaji dikenal sebagai surat kabar nasional pertama karena menggunakan bahasa Melayu (bahasa Indonesia), dan seluruh pekerja mulai dari pengasuhnya, percetakan, penerbitan dan wartawannya adalah pribumi Indonesia asli.

Selain itu Tirto adalah orang pertama yang menggunakan surat kabar sebagai alat propaganda dan pembentuk pendapat umum.

Dia juga berani menulis kecaman-kecaman pedas terhadap pemerintahan kolonial Belanda pada masa itu. Akhirnya Tirto ditangkap dan disingkirkan dari Pulau Jawa dan dibuang ke Pulau Bacan, dekat Halmahera (Provinsi Maluku Utara). Setelah selesai masa pembuangannya, Tirto kembali ke Batavia, dan meninggal dunia pada 7 Desember 1918.

Kisah perjuangan dan kehidupan Tirto diangkat oleh Pramoedya Ananta Toer dalam Tetralogi Buru dan Sang Pemula.

Pada 1973, pemerintah mengukuhkan Tirto sebagai Bapak Pers Nasional. Pada tanggal 3 November 2006, Tirto mendapat gelar sebagai Pahlawan Nasional melalui Keppres RI no 85/TK/2006.

Tags

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
Close